BUNGA DAN KUMBANG
Aku membiarkan cintaku luntur di telan waktu dan kecamuk rasa. Hingga akhirnya kecewa yang pasti datang bertandang…
terus bergema di telingaku, meremuk redankan nyawaku. Aku sudah tak bisa tersenyum, menangis pun terasa sesak. Udara pun serasa tak dapat masuk menyusup nadi. Aku tak dapat melihat, mendengar…mencecap pun terasa mematahkan jiwa. Aku, kembali lagi dalam mjiwaku yang terpasung…
Jarak yang semakin dekat ternyata justru semakin menyakitkan. Demi ayah, keluarga dan petuah-petuah darinya, petuah yang masih terdengar jelas di telingaku membuat aku tetap jadi bunga yang angkuh. Tetap terdiam melihat kumbang terseret angin, meliuk terbata-bata untuk menghampiriku. Demi ayah kutepiskan semua rindu. Karena ayah yang menjagaku, mengalirkan darah dalam nadiku, menegarkanku ketika aku layu.
Tapi kini aku benar-benar telah layu. Layu dan penat karena terlalu berat memikul madu cinta ini. kumbang yang harusnya menghampiri tak mampu lagi menghisap manis ini. Sehingga madu inipun meracuniku. Aku yang terlalu ego, terlalu depankan prinsip yang aku tak tau apa itu selalu benar. Tapi aku tau Allah sayang aku. Semua dari-Nya adalah yang terbaik. Mungkin madu ini memang bukan untuk kumbang karena mungkin akan meracuninya, meskipun ku tau kumbang pun seakan mati tanpa madu ini…
0 comments:
Posting Komentar