Senin, 05 Juni 2017

Mencintai Nabi Muhammad di Negeri Sendiri


Mencintai Nabi Muhammad di Negeri Sendiri - Setelah sekian lama meninggalkan Mekkah, rasa rindu begitu menyeruak di dada Nabi Muhammad. Kepada siapa saja yang baru kembali darinya, Rasulullah SAW tak sungkan menanyakan kabar tentang Mekkah



Pun kepada Ashil Al-Ghifari. Ketika sahabat itu kembali menginjakkan Madinah dan menjumpai Nabi, ia mendapati permintaan Rasul, "Ceritakanlah padaku bagaimana keadaan Mekkah sekarang?"


sebagai catatan bahwa makna dari kitab Akhbar Makkah karya Al-Azraqi merupa­kan karya tertua yang membahas Mak­kah secara komprehensif. Karya ini men­jadi sumber ilmiah terpenting bagi studi tentang Makkah. Para ulama bidang tafsir, hadits, fiqih, dan tentunya sejarah serta bidang-bidang lainnya, sangat me­naruh perhatian pada kitab ini.

Imam Abu Al-Walid Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Walid bin Uqbah Al-Ghassani Al-Azraqi, yang besar di masa kebesaran periode tadwin, sungguh telah memberi warisan yang sangat berharga bagi pe­nelitian sejarah Makkah. Kitabnya ini sa­rat dengan beragam informasi tentang Makkah pada dua abad pertama sejarah Islam. Sehingga bila kita menyelaminya, seakan kita tengah hidup di masa itu, di kota yang amat dicintai Rasulullah SAW.



Namun sebenarnya itu tak menjadi patokan untuk menimbulkan keraguan di dalamnya. Sebab selain memang faktor siapa yang paling berjasa dalam membukukan ilmu, yang lebih penting dari itu adalah kemampuan merangkai riwayat menjadi sebuah tulisan dalam bentuk yang sistematis, itu menjadi faktor utama penilaian di kalangan ulama ahli ilmu. Maka diyakinilah bahwa Imam Muhammad Al-Azraqi, sang cucu, seba­gai penulisnya. Hal itu juga dibenarkan beberapa penulis periode awal lainnya, seperti Ibn Nadim, Haji Khalifah, Adz-Dzahabi

Merujuk pada catatan itu, diambil ke­simpulan bahwa masa kehidupan Imam Muhammad Al-Azraqi, sang cucu, ada­lah masa tadwin (kodifikasi ilmu penge­tahuan). Apalagi ia adalah seorang tokoh masa tadwin, sehingga ia melakukan ke­giatan pembukuan atas riwayat-riwayat itu, dan menisbahkan kepada dirinya


Di lain kesempatan, Rasulullah SAW bersabda, "Alangkah baiknya engkau (Mekkah) sebagai sebuah negeri. Dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu." 

0 comments:

Posting Komentar